18 November 2013

Maaf

Sekejap ragapun gemetar
Lisan kembali salah berucap
Susah sekali menjaga perkataan, susah sekali ketika kesadaran atas apa yang diucapkan hadir setelah yang diungkapkan tersampaikan
Hati berucap lirih
Lagi lagi sederhana
Kepedulianpun terkadang menjerumuskan
Kadang sepele, dan kau kadang mungkin menganggap biasa
Tapi seketika semua bisa menjadi tidak biasa dan tidak lagi sepele jika kita terlalu memikirkan dan membuat yang terjadi semakin runyam
Terlebih ketika pikiran ini yang dengan cepatnya segera mengait - ngaitkan
Menghubung - hubungkan dengan hal - hal yang tidak penting yang semakin membuat rumit
Kau yang sebelumnya tidak terbebani menjadi jauh terbebani
Satu kekhilafan kecil itu bagiku sangat menakutkan kawan
Satu kelalaian itu sangat meyudutkan
Satu kesalahan bagiku sama halnya menghadirkan satu luka, sekalipun kesalahan itu kadang hanya sesuatu hal yang kecil
Kadang ketika membuat orang lain tersakiti atau terluka jauh lebih sakit rasanya ketika kita yang disakiti dan merasa terluka
Maafkan sahabat, maaf
Semoga malam akan membawanya berlalu


4 November 2013

Untuk Jiwa

Padamu jiwa yang masih saja sering rapuh akan banyak hal.
Padamu jiwa yang saat ini gundah gulana dengan apa yang kau rasakan.
Kau tahu bukan kekecawaan itu bisa datang begitu saja bahkan dari diri sendiri?
Dan kau tahu bukan penyesalan mungkin saja hadir setelah kekecewaan yang kau rasakan?
Dan kau juga tahu bukan bahwa penyesalan yang datang setelah kau menghadirkan kekecewaan akan menimbulkan kegelisahan, kegundahan dan berbagai hal yang berdampak besar pada suasana hatimu?
Kau tahu bukan?
Dan jelas jawabannya tentu kau tahu!
Sadarkah kau akan hal kecil yang menimbulkan penyesalan besar pada dirimu?
Sadarkah kau akan hal kecil yang telah meruntuhkan prinsip yang selama ini kau pertahankan?
Sadarkah kau akan apa yang sudah kau lakukan?
Sadarkah!
Wahai jiwa yang teramat goyah dengan sandiwara kenikmatan dunia.
Duhai hati yang begitu rapuh akan berbagai rasa yang silih berganti melanda.
Aku tau kau paham, aku tau kau mengerti dan aku mengerti bahwa kau begitu terpuruk dengan apa yang kau lakukan.
Tapi haruskah kau bertahan dengan kegundahan dan penyesalan yang membuatmu rapuh? Akankah kau membiarkan semuanya membuatmu semakin terpuruk dan merasa hampa?
Dan aku yakin kau pasti sangat tahu bahwa sudah barang tentu tidak!
Ketika kau mengharapkan sosok yang selalu saja menjadi ruh dan pengobat hati yang dirundung akan ketidaknyaman akan selamanya mampu membuatmu merasa damai dan tentram bahkan selalu mendapatkan apa yang hatimu harapkan, maka kau salah. Kau salah!
Bukankah dia juga memiliki hati yang juga bisa merasakan ketidaknyamanan seperti yang kau rasakan?
Bukankah mungkin saja dia lebih memiliki masalah yang pelik dari apa yang kau alami?
Kau harus mampu memahami untuk bisa menerima banyak hal.
Maka bersabarlah, ikhlas dan ttap serahkan semua pada sang pemilik skenario kehidupan.
Seperti biasa, ini hanya masalah waktu.


Cibubur, 1 November 2013

Tuhan Punya Maksud

Ketika bahagia merasuk ke dalam sukma jiwa,
Rona mentari ikut menghadirkan pesona dengan terik penuh keemasan.
Hasrat hati selalu saja begitu,
Sesaat bahagia, seketika bisa saja berubah sendu.
Bak rona mentari yang seketika hilang dibungkus langit gelap bersama awan mendung yang tiba - tiba saja hadir memberikan isyarat akan datangnya hujan.
Mendung pertanda hujan akan turun.
Tapi bukan berarti mentari akan selamanya pergi.
Ia hanya pergi sebentar agar kau bisa memahami satu hal
Bahwa hujan juga punya hak untuk menampakkan wujudnya
Atau pelangi juga ingin hadir ketika hujan mulai mereda
Walau mentari pergi kau masih bisa menikmati tarian hujan bukan?
Tuhan pasti punya maksud menyembunyikan mentari dengan mendatangkan langit yang seketika mendung untuk menghadirkan hujan.
Sama dengan ketika malam datang ketika kau mengharapkan bintang hadir bersama rembulan untuk menghiasi langit
Namun mendung juga menyembunyikan keduanya
Dan lagi tuhan pasti punya maksud mengapa menyembunyikan bintang dan rembulan yang kau harapkan akan muncul
Agar kau bisa mengambil banyak makna
Agar kau mampu memahami dan memaknai banyak hal
Bahwa tidak hanya bintang dan rembulan yang mampu menerangi malammu
Namun ada kerlap kerlip kunang - kunang yang juga mampu menghadirkan cahayanya untuk menyinari malammu.


Cibubur, 2 November 2013

Renungan

Kadang merasakan sakit itu perlu,
Agar kau sadar untuk tidak merasa sakit itu juga perlu merasakan sakit terlebih dahulu agar kau paham bagaimana rasanya sakit.
Kadang merasakan sesuatu hal yang pahit itu perlu,
Agar kau paham untuk merasakan sesuatu hal yang manis, juga perlu merasakan sesuatu yang pahit agar kau mampu membedakan keduanya.
Kadang merasakan tangis itu perlu
Agar kau paham untuk bisa tertawa kau juga harus tau bagaimana rasanya menangis.
Kadang merasakan sedih itu perlu,
Agar kau paham untuk bahagia itu juga ada kesedihan yang menghiasi,
Banyak hal yang harus kau lewati agar kau mampu merasakan begitu sulitnya untuk mendapatkan sesuatu yang kau dambakan, sesuatu yang teramat kau inginkan,
Akan selalu ada dua kemungkinan yang bertolak belakang untuk banyak hal,
Dan kau perlu merasakan keduanya agar mampu membedakannya untuk bisa menerima.
Banyak hal yang harus mampu kau terima agar bisa memaknai, agar mampu memahami.

Kotaku


Kota yang dari dulu hampir saja sama
Tak banyak yang berubah
Namun beberapa tahun belakangan ini sepertinya semakin sepi
Dari balik jendela menikmati setiap kendaraan yang berlalu lalang
Cuaca diluarpun sepertinya tak cukup bersahabat
Mendung berselimut kabut
Nampaknya hujan akan turun
Dari balik jendela masih menikmati setiap kendaraan yang berlalu lalang
Dan kali ini hujan benar - benar turun
Hujan turun kembali membasuh kota
Menikmati setiap tetesnya dari balik jendela sebelum keberangkatan
Sebentar lagi aku akan meninggalkanmu
Baru sehari dan itu kemarin
Tapi aku tetap harus pergi
Mengubur kerinduan yang baru akan terobati dengan suasana hangat di meja makan
Aku pergi
Semoga bisa cepat kembali

Tentang Pertemuan

Ceritapun terus berlanjut, 
Semakin jauh kita menoreh kisah - kisah dalam kehidupan.
Hari ini adalah hari kesekian kita bersama
"Kau masih ingatkan Han kapan pertama kalinya kau dan aku dipertemukan?"
Nissa tiba - tiba bertanya kepada Raihan yang sedari tadi sibuk dengan deadline tugasnya.
"Kau masih ingat bukan?"
Raihan berhenti menatap layar monitor laptopnya yang sudah sedari tadi menyita perhatiannya dari Nissa.
"Maaf Nis, boleh diulang kembali apa yang kamu tanyakan?"
"Oh...hanya mencoba mengembalikan memori kita beberapa masa yang lalu Han.
Saat kau pertama kalinya melihatku, atau saat aku pertama kalinya melihatmu, atau lebih tepatnya saat kita pertama kali dipertemukan.
Kau masih ingat Han?"
"Hem...pertama!
Pertama kali bertemu ya?
Kamu masih ingat Sa?"
"Kenapa balik bertanya Han? Masih ingatkah?"
"Aku lupa Nis, kamu masih ingat?"
"Lupa ya Han? Atau mungkin kau masih ingat saat pertama kalinya kau melihatku.
Apa kau masih ingat?
Saat pertama kali kau melihatku, namun aku tidak menyadari dan kita sama sekali tidak bertemu, tapi sebenarnya kau melihatku. Kau masih ingat?"
"Aku lupa Nis."
"Han..,Han.., ya sudah kalau ngakunya begitu.
Aku masih ingat Han, masih ingat saat pertama kali melihatmu, masih ingat saat pertama kali kita dipertemukan.
Aku masih ingat persis malah.
Aku pertama kali melihatmu tepat saat kau waktu itu sedang berada di sebuah ruangan, dan aku melihatmu dari kejauhan, namun saat itu tidak ada apa - apa di antara kita, tidak ada apapun.
Hanya aku masih ingat kalau saat itu aku pernah melihat sesosok lelaki yang tengah serius melakoni perannya dalam sebuah kegiatan. Setelah itu aku cukup lama tak pernah lagi melihatnya. Dan jauh setelah itu, aku dipertemukan lagi dengan sosok yang sama. Dan laki - laki itu adalah kau. Saat itulah pertama kalinya kita dipertemukan. Saat itu di tempat yang begitu akrab dengan kita, kita dipertemukan.
Waktu itu, kau seperti biasa sibuk dengan aktifitasmu di depan monitor.
Ya...kira - kira seperti saat ini.
Dan tiba - tiba ada hal yang membuat percakapan itu pertama kalinya di mulai."
"Raihan"
"Nissa"
"Oh...Nissa ya?"
"Ya...Nissa"
Singkat saja, itu kali pertamanya, dan sejak itu lama sekali kita tak pernah berbicara. Lama sekali.
Raihan menarik nafas panjang.
"Nissa...Nissa..."
"Kenapa Han?"
"Ngak Sa"
"Han...kau tahu, malam ini aku menyadari bahwa ternyata setiap detikku bersamamu itu sangat berarti. Kau tahu kenapa aku menanyakan kembali awal kalinya kau dan aku dipertemukan? Karena ternyata segala sesuatunya yang telah kita jalani sampai saat ini, bermula dari pertemuan itu Han. Ingatkan saat percakapan pertama itu tidak ada apapun diantara kita?
Ingatkan kalau saat itu kita belum pernah kenal sebelumnya dan tidak pernah tahu apa - apa?
Dan kini Han, kini gambaran masa itupun seperti akan berlalu begitu saja. Mungkin karena memang tidak ada hal yang berarti saat itu yang bisa untuk di kenang. Tapi Han, aku bersyukur, dan ternyata bagian itu penting. Karena kalau bukan karena kejadian waktu itu, mungkin aku akan kehilangan satu kesempatanku untuk mengukir ceritaku bersamamu. Dan walau memang tak ada apa - apa saat itu, walau saat itu hanya percakapan singkat, tapi itu adalah moment penting dimana kali pertamanya kita bertemu, pertama kalinya kita berbicara. Jika selembar kisah itu hilang, maka cerita kita tak akan lengkap Han.
Cerita kita tidak akan lengkap karena kita kehilangan kisah awal pertama kalinya kita dipertemukan yang akan menjadi lembar pertama dari kisah perjalanan cerita kita."
"Nis" ucap Han lirih.
"Han, tidak apa - apa kok. Ada masanya aku yang jauh lebih ingat tentang sesuatu hal, dan sebaliknya ada juga masanya kau yang jauh lebih ingat dari pada aku. Dan untuk hal ini agar kau bisa menggenggam erat cerita awal pertemuan kita, cukup kau ingat kalau malam ini aku pernah menceritakan ulang kembali padamu tentang kisah dua manusia yang bertemu di sebuah tempat yang menjadi tempat yang berarti bagi keduanya, bertemu tanpa banyak kata - kata dan tanpa disengaja, bertemu atas kehendakNya, dan yang paling penting, dua manusia itu adalah kau dan aku, mereka adalah kita. Maka ceritaku ini akan lebih berarti dan bisa kau ingat ketimbang kau harus memaksa kembali ingatanmu untuk bisa mengembalikan kembali memoar dimana dan kapan pertama kalinya kita dipertemukan".

07 September 2013

Ah...
Sudah biasa, dan mungkin jadi kebiasaan,
Kenapa tidak sebelum melakukannya hal ini kau pikirkan?
Lantas apakah hasrat itu terpuaskan setelah kau mengungkapkannya?
Ya...mungkin saja memang terpuaskan, tapi tidakkah ada perang batin setelahnya?
Kenapa begini, kenapa begitu?
Hanya Segelintir tanya tanpa ruh!
Hey!
Belajarlah dari banyak hal, belajarlah dari ap yang sebelumnya terjadi,
Sibuk membenarkan, sibuk dengan menyalahkan,
Lagi lagi prasangka..
lagi lagi berburuk sangka.
Kau lihat dampaknya bukan?