Kadang merasakan sakit itu perlu,
Agar kau sadar untuk tidak merasa sakit itu juga perlu merasakan sakit terlebih dahulu agar kau paham bagaimana rasanya sakit.
Kadang merasakan sesuatu hal yang pahit itu perlu,
Agar kau paham untuk merasakan sesuatu hal yang manis, juga perlu merasakan sesuatu yang pahit agar kau mampu membedakan keduanya.
Kadang merasakan tangis itu perlu
Agar kau paham untuk bisa tertawa kau juga harus tau bagaimana rasanya menangis.
Kadang merasakan sedih itu perlu,
Agar kau paham untuk bahagia itu juga ada kesedihan yang menghiasi,
Banyak hal yang harus kau lewati agar kau mampu merasakan begitu sulitnya untuk mendapatkan sesuatu yang kau dambakan, sesuatu yang teramat kau inginkan,
Akan selalu ada dua kemungkinan yang bertolak belakang untuk banyak hal,
Dan kau perlu merasakan keduanya agar mampu membedakannya untuk bisa menerima.
Banyak hal yang harus mampu kau terima agar bisa memaknai, agar mampu memahami.
18 November 2013
Kotaku
Kota yang dari dulu hampir saja sama
Tak banyak yang berubah
Namun beberapa tahun belakangan ini sepertinya semakin sepi
Dari balik jendela menikmati setiap kendaraan yang berlalu lalang
Cuaca diluarpun sepertinya tak cukup bersahabat
Mendung berselimut kabut
Nampaknya hujan akan turun
Dari balik jendela masih menikmati setiap kendaraan yang berlalu lalang
Dan kali ini hujan benar - benar turun
Hujan turun kembali membasuh kota
Menikmati setiap tetesnya dari balik jendela sebelum keberangkatan
Sebentar lagi aku akan meninggalkanmu
Baru sehari dan itu kemarin
Tapi aku tetap harus pergi
Mengubur kerinduan yang baru akan terobati dengan suasana hangat di meja makan
Aku pergi
Semoga bisa cepat kembali
Tentang Pertemuan
Ceritapun terus berlanjut,
Semakin jauh kita menoreh kisah - kisah dalam kehidupan.
Hari ini adalah hari kesekian kita bersama
"Kau masih ingatkan Han kapan pertama kalinya kau dan aku dipertemukan?"
Nissa tiba - tiba bertanya kepada Raihan yang sedari tadi sibuk dengan deadline tugasnya.
"Kau masih ingat bukan?"
Raihan berhenti menatap layar monitor laptopnya yang sudah sedari tadi menyita perhatiannya dari Nissa.
"Maaf Nis, boleh diulang kembali apa yang kamu tanyakan?"
"Oh...hanya mencoba mengembalikan memori kita beberapa masa yang lalu Han.
Saat kau pertama kalinya melihatku, atau saat aku pertama kalinya melihatmu, atau lebih tepatnya saat kita pertama kali dipertemukan.
Kau masih ingat Han?"
"Hem...pertama!
Pertama kali bertemu ya?
Kamu masih ingat Sa?"
"Kenapa balik bertanya Han? Masih ingatkah?"
"Aku lupa Nis, kamu masih ingat?"
"Lupa ya Han? Atau mungkin kau masih ingat saat pertama kalinya kau melihatku.
Apa kau masih ingat?
Saat pertama kali kau melihatku, namun aku tidak menyadari dan kita sama sekali tidak bertemu, tapi sebenarnya kau melihatku. Kau masih ingat?"
"Aku lupa Nis."
"Han..,Han.., ya sudah kalau ngakunya begitu.
Aku masih ingat Han, masih ingat saat pertama kali melihatmu, masih ingat saat pertama kali kita dipertemukan.
Aku masih ingat persis malah.
Aku pertama kali melihatmu tepat saat kau waktu itu sedang berada di sebuah ruangan, dan aku melihatmu dari kejauhan, namun saat itu tidak ada apa - apa di antara kita, tidak ada apapun.
Hanya aku masih ingat kalau saat itu aku pernah melihat sesosok lelaki yang tengah serius melakoni perannya dalam sebuah kegiatan. Setelah itu aku cukup lama tak pernah lagi melihatnya. Dan jauh setelah itu, aku dipertemukan lagi dengan sosok yang sama. Dan laki - laki itu adalah kau. Saat itulah pertama kalinya kita dipertemukan. Saat itu di tempat yang begitu akrab dengan kita, kita dipertemukan.
Waktu itu, kau seperti biasa sibuk dengan aktifitasmu di depan monitor.
Ya...kira - kira seperti saat ini.
Dan tiba - tiba ada hal yang membuat percakapan itu pertama kalinya di mulai."
"Raihan"
"Nissa"
"Oh...Nissa ya?"
"Ya...Nissa"
Singkat saja, itu kali pertamanya, dan sejak itu lama sekali kita tak pernah berbicara. Lama sekali.
Raihan menarik nafas panjang.
"Nissa...Nissa..."
"Kenapa Han?"
"Ngak Sa"
"Han...kau tahu, malam ini aku menyadari bahwa ternyata setiap detikku bersamamu itu sangat berarti. Kau tahu kenapa aku menanyakan kembali awal kalinya kau dan aku dipertemukan? Karena ternyata segala sesuatunya yang telah kita jalani sampai saat ini, bermula dari pertemuan itu Han. Ingatkan saat percakapan pertama itu tidak ada apapun diantara kita?
Ingatkan kalau saat itu kita belum pernah kenal sebelumnya dan tidak pernah tahu apa - apa?
Dan kini Han, kini gambaran masa itupun seperti akan berlalu begitu saja. Mungkin karena memang tidak ada hal yang berarti saat itu yang bisa untuk di kenang. Tapi Han, aku bersyukur, dan ternyata bagian itu penting. Karena kalau bukan karena kejadian waktu itu, mungkin aku akan kehilangan satu kesempatanku untuk mengukir ceritaku bersamamu. Dan walau memang tak ada apa - apa saat itu, walau saat itu hanya percakapan singkat, tapi itu adalah moment penting dimana kali pertamanya kita bertemu, pertama kalinya kita berbicara. Jika selembar kisah itu hilang, maka cerita kita tak akan lengkap Han.
Cerita kita tidak akan lengkap karena kita kehilangan kisah awal pertama kalinya kita dipertemukan yang akan menjadi lembar pertama dari kisah perjalanan cerita kita."
"Nis" ucap Han lirih.
"Han, tidak apa - apa kok. Ada masanya aku yang jauh lebih ingat tentang sesuatu hal, dan sebaliknya ada juga masanya kau yang jauh lebih ingat dari pada aku. Dan untuk hal ini agar kau bisa menggenggam erat cerita awal pertemuan kita, cukup kau ingat kalau malam ini aku pernah menceritakan ulang kembali padamu tentang kisah dua manusia yang bertemu di sebuah tempat yang menjadi tempat yang berarti bagi keduanya, bertemu tanpa banyak kata - kata dan tanpa disengaja, bertemu atas kehendakNya, dan yang paling penting, dua manusia itu adalah kau dan aku, mereka adalah kita. Maka ceritaku ini akan lebih berarti dan bisa kau ingat ketimbang kau harus memaksa kembali ingatanmu untuk bisa mengembalikan kembali memoar dimana dan kapan pertama kalinya kita dipertemukan".
Semakin jauh kita menoreh kisah - kisah dalam kehidupan.
Hari ini adalah hari kesekian kita bersama
"Kau masih ingatkan Han kapan pertama kalinya kau dan aku dipertemukan?"
Nissa tiba - tiba bertanya kepada Raihan yang sedari tadi sibuk dengan deadline tugasnya.
"Kau masih ingat bukan?"
Raihan berhenti menatap layar monitor laptopnya yang sudah sedari tadi menyita perhatiannya dari Nissa.
"Maaf Nis, boleh diulang kembali apa yang kamu tanyakan?"
"Oh...hanya mencoba mengembalikan memori kita beberapa masa yang lalu Han.
Saat kau pertama kalinya melihatku, atau saat aku pertama kalinya melihatmu, atau lebih tepatnya saat kita pertama kali dipertemukan.
Kau masih ingat Han?"
"Hem...pertama!
Pertama kali bertemu ya?
Kamu masih ingat Sa?"
"Kenapa balik bertanya Han? Masih ingatkah?"
"Aku lupa Nis, kamu masih ingat?"
"Lupa ya Han? Atau mungkin kau masih ingat saat pertama kalinya kau melihatku.
Apa kau masih ingat?
Saat pertama kali kau melihatku, namun aku tidak menyadari dan kita sama sekali tidak bertemu, tapi sebenarnya kau melihatku. Kau masih ingat?"
"Aku lupa Nis."
"Han..,Han.., ya sudah kalau ngakunya begitu.
Aku masih ingat Han, masih ingat saat pertama kali melihatmu, masih ingat saat pertama kali kita dipertemukan.
Aku masih ingat persis malah.
Aku pertama kali melihatmu tepat saat kau waktu itu sedang berada di sebuah ruangan, dan aku melihatmu dari kejauhan, namun saat itu tidak ada apa - apa di antara kita, tidak ada apapun.
Hanya aku masih ingat kalau saat itu aku pernah melihat sesosok lelaki yang tengah serius melakoni perannya dalam sebuah kegiatan. Setelah itu aku cukup lama tak pernah lagi melihatnya. Dan jauh setelah itu, aku dipertemukan lagi dengan sosok yang sama. Dan laki - laki itu adalah kau. Saat itulah pertama kalinya kita dipertemukan. Saat itu di tempat yang begitu akrab dengan kita, kita dipertemukan.
Waktu itu, kau seperti biasa sibuk dengan aktifitasmu di depan monitor.
Ya...kira - kira seperti saat ini.
Dan tiba - tiba ada hal yang membuat percakapan itu pertama kalinya di mulai."
"Raihan"
"Nissa"
"Oh...Nissa ya?"
"Ya...Nissa"
Singkat saja, itu kali pertamanya, dan sejak itu lama sekali kita tak pernah berbicara. Lama sekali.
Raihan menarik nafas panjang.
"Nissa...Nissa..."
"Kenapa Han?"
"Ngak Sa"
"Han...kau tahu, malam ini aku menyadari bahwa ternyata setiap detikku bersamamu itu sangat berarti. Kau tahu kenapa aku menanyakan kembali awal kalinya kau dan aku dipertemukan? Karena ternyata segala sesuatunya yang telah kita jalani sampai saat ini, bermula dari pertemuan itu Han. Ingatkan saat percakapan pertama itu tidak ada apapun diantara kita?
Ingatkan kalau saat itu kita belum pernah kenal sebelumnya dan tidak pernah tahu apa - apa?
Dan kini Han, kini gambaran masa itupun seperti akan berlalu begitu saja. Mungkin karena memang tidak ada hal yang berarti saat itu yang bisa untuk di kenang. Tapi Han, aku bersyukur, dan ternyata bagian itu penting. Karena kalau bukan karena kejadian waktu itu, mungkin aku akan kehilangan satu kesempatanku untuk mengukir ceritaku bersamamu. Dan walau memang tak ada apa - apa saat itu, walau saat itu hanya percakapan singkat, tapi itu adalah moment penting dimana kali pertamanya kita bertemu, pertama kalinya kita berbicara. Jika selembar kisah itu hilang, maka cerita kita tak akan lengkap Han.
Cerita kita tidak akan lengkap karena kita kehilangan kisah awal pertama kalinya kita dipertemukan yang akan menjadi lembar pertama dari kisah perjalanan cerita kita."
"Nis" ucap Han lirih.
"Han, tidak apa - apa kok. Ada masanya aku yang jauh lebih ingat tentang sesuatu hal, dan sebaliknya ada juga masanya kau yang jauh lebih ingat dari pada aku. Dan untuk hal ini agar kau bisa menggenggam erat cerita awal pertemuan kita, cukup kau ingat kalau malam ini aku pernah menceritakan ulang kembali padamu tentang kisah dua manusia yang bertemu di sebuah tempat yang menjadi tempat yang berarti bagi keduanya, bertemu tanpa banyak kata - kata dan tanpa disengaja, bertemu atas kehendakNya, dan yang paling penting, dua manusia itu adalah kau dan aku, mereka adalah kita. Maka ceritaku ini akan lebih berarti dan bisa kau ingat ketimbang kau harus memaksa kembali ingatanmu untuk bisa mengembalikan kembali memoar dimana dan kapan pertama kalinya kita dipertemukan".
07 September 2013
Ah...
Sudah biasa, dan mungkin jadi kebiasaan,
Kenapa tidak sebelum melakukannya hal ini kau pikirkan?
Lantas apakah hasrat itu terpuaskan setelah kau mengungkapkannya?
Ya...mungkin saja memang terpuaskan, tapi tidakkah ada perang batin setelahnya?
Kenapa begini, kenapa begitu?
Hanya Segelintir tanya tanpa ruh!
Hey!
Belajarlah dari banyak hal, belajarlah dari ap yang sebelumnya terjadi,
Sibuk membenarkan, sibuk dengan menyalahkan,
Lagi lagi prasangka..
lagi lagi berburuk sangka.
Kau lihat dampaknya bukan?
Sudah biasa, dan mungkin jadi kebiasaan,
Kenapa tidak sebelum melakukannya hal ini kau pikirkan?
Lantas apakah hasrat itu terpuaskan setelah kau mengungkapkannya?
Ya...mungkin saja memang terpuaskan, tapi tidakkah ada perang batin setelahnya?
Kenapa begini, kenapa begitu?
Hanya Segelintir tanya tanpa ruh!
Hey!
Belajarlah dari banyak hal, belajarlah dari ap yang sebelumnya terjadi,
Sibuk membenarkan, sibuk dengan menyalahkan,
Lagi lagi prasangka..
lagi lagi berburuk sangka.
Kau lihat dampaknya bukan?
06 Agustus 2013
23 juli 2013
saat hati berbicara,
namun lisan tak mampu bersuara,
maka biarkan hati yang merangkainya,
mengeja setiap makna di dalamnya,
saat ingin mengungkap kata,
namun bibir tak mampu berkata-kata,
maka biarkan ia tersimpan sebagai rasa di dalam asa,
ingin sekali kau mengetahuinya,
memaknai untuk bisa mengerti agar mampu memahaminya,
sahabat, aku merindukanmu, teramat merindukanmu,
semoga kau mampu merasakannya.
namun lisan tak mampu bersuara,
maka biarkan hati yang merangkainya,
mengeja setiap makna di dalamnya,
saat ingin mengungkap kata,
namun bibir tak mampu berkata-kata,
maka biarkan ia tersimpan sebagai rasa di dalam asa,
ingin sekali kau mengetahuinya,
memaknai untuk bisa mengerti agar mampu memahaminya,
sahabat, aku merindukanmu, teramat merindukanmu,
semoga kau mampu merasakannya.
21 juli 2013
masalah hati selalu saja rumit,
urusan perasaan memang selalu saja mewarnai cerita kehidupan,
kadang mekar merekah indah dan senantiasa terjaga,
kadang hanya sekedar mekar,
namun ada yang layu ataupun mati sebelum waktunya,
berharap warna cerita kita berbeda,
tak ingin layu ataupun mati sebelum waktunya,
ingin berakhir bahagia seperti mimpi dan apa yang diinginkan,
ingin berakhir seperti apa yang ditekadkan dan apa yang ingin diraih,
ingin berakhir seperti bunga yang mekar merekah menebarkan aroma wangi bersama keindahan,
bissmillah,
kuserahkan kepadaNya yang menciptakan,
kepadaNya yang menghadiahkan,
kemudian menghadirkan,
menciptakan hati, menghadiahkan rasa, kemudian menghadirkan cinta,
sang Maha pembolak balik hati,
Engkau memberikan suratan, lalu memutuskan,
ku serahkan semuanya hanya kepadaMu,
Wahai Allah Tuhan seru sekalian alam.
urusan perasaan memang selalu saja mewarnai cerita kehidupan,
kadang mekar merekah indah dan senantiasa terjaga,
kadang hanya sekedar mekar,
namun ada yang layu ataupun mati sebelum waktunya,
berharap warna cerita kita berbeda,
tak ingin layu ataupun mati sebelum waktunya,
ingin berakhir bahagia seperti mimpi dan apa yang diinginkan,
ingin berakhir seperti apa yang ditekadkan dan apa yang ingin diraih,
ingin berakhir seperti bunga yang mekar merekah menebarkan aroma wangi bersama keindahan,
bissmillah,
kuserahkan kepadaNya yang menciptakan,
kepadaNya yang menghadiahkan,
kemudian menghadirkan,
menciptakan hati, menghadiahkan rasa, kemudian menghadirkan cinta,
sang Maha pembolak balik hati,
Engkau memberikan suratan, lalu memutuskan,
ku serahkan semuanya hanya kepadaMu,
Wahai Allah Tuhan seru sekalian alam.
05 Agustus 2013
16 juli 2013
Bissmillah,
ketika aku yakin, maka aku meyakini bahwa kamupun yakin,
ketika aku percaya, maka akupun percaya bahwa kamu benar-benar percaya
semua begitu kokoh,
begitu kuat dan mengakar di dalam hati,
walau semua berawal dan hadir tanpa adanya persyaratan,
aku hadir tanpa membawa syarat, begitupun dirimu hadir tanpa membawa syarat bagiku
maka tetaplah menjadi orang yang berarti bagiku,
dan jangan pernah lupakan awal itu,
karena awal itu lebih indah dari pada perjalanannya,
maka jika masa itu berarti, bahkan sampai sekarang begitu berarti,
kenapa berusaha untuk melerainya jika kita menginginkannya,
namun aku tetap yakin dan tetap percaya,
yakin dan percaya akan janji dan tekad yang kamu sempurnakan saat itu,
janji dan tekadmu yang telah kamu sempurnakan malam itu di lorong mimbar
mesjid tempatmu beri'tiqaf,
kamu niatkan keinginanmu, kamu bulatkan tekadmu dan kamu hujamkan ke
dalam hatimu apa yang menjadi keinginanmu,
aku sangat yakin dan begitu percaya,
maka apa yang sudah diikrarkan tak akan bisa dipungkiri,
karena sejatinya ia akan kekal dan abadi di dalam hati,
semoga semuanya akan baik-baik saja,
maka yakin dan percayalah
ketika aku yakin, maka aku meyakini bahwa kamupun yakin,
ketika aku percaya, maka akupun percaya bahwa kamu benar-benar percaya
semua begitu kokoh,
begitu kuat dan mengakar di dalam hati,
walau semua berawal dan hadir tanpa adanya persyaratan,
aku hadir tanpa membawa syarat, begitupun dirimu hadir tanpa membawa syarat bagiku
maka tetaplah menjadi orang yang berarti bagiku,
dan jangan pernah lupakan awal itu,
karena awal itu lebih indah dari pada perjalanannya,
maka jika masa itu berarti, bahkan sampai sekarang begitu berarti,
kenapa berusaha untuk melerainya jika kita menginginkannya,
namun aku tetap yakin dan tetap percaya,
yakin dan percaya akan janji dan tekad yang kamu sempurnakan saat itu,
janji dan tekadmu yang telah kamu sempurnakan malam itu di lorong mimbar
mesjid tempatmu beri'tiqaf,
kamu niatkan keinginanmu, kamu bulatkan tekadmu dan kamu hujamkan ke
dalam hatimu apa yang menjadi keinginanmu,
aku sangat yakin dan begitu percaya,
maka apa yang sudah diikrarkan tak akan bisa dipungkiri,
karena sejatinya ia akan kekal dan abadi di dalam hati,
semoga semuanya akan baik-baik saja,
maka yakin dan percayalah
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)




.jpg)