06 Agustus 2013

21 juli 2013

masalah hati selalu saja rumit,
urusan perasaan memang selalu saja mewarnai cerita kehidupan,
kadang mekar merekah indah dan senantiasa terjaga,
kadang hanya sekedar mekar,
namun ada yang layu ataupun mati sebelum waktunya,
berharap warna cerita kita berbeda,
tak ingin layu ataupun mati sebelum waktunya,
ingin berakhir bahagia seperti mimpi dan apa yang diinginkan,
ingin berakhir seperti apa yang ditekadkan dan apa yang ingin diraih,
ingin berakhir seperti bunga yang mekar merekah menebarkan aroma wangi bersama keindahan,
bissmillah,
kuserahkan kepadaNya yang menciptakan,
kepadaNya yang menghadiahkan,
kemudian menghadirkan,
menciptakan hati, menghadiahkan rasa, kemudian menghadirkan cinta,
sang Maha pembolak balik hati,
Engkau memberikan suratan, lalu memutuskan,
ku serahkan semuanya hanya kepadaMu,
Wahai Allah Tuhan seru sekalian alam.

05 Agustus 2013

16 juli 2013

Bissmillah,
ketika aku yakin, maka aku meyakini bahwa kamupun yakin,
ketika aku percaya, maka akupun percaya bahwa kamu benar-benar percaya
semua begitu kokoh,
begitu kuat dan mengakar di dalam hati,
walau semua berawal dan hadir tanpa adanya persyaratan,
aku hadir tanpa membawa syarat, begitupun dirimu hadir tanpa membawa syarat bagiku
maka tetaplah menjadi orang yang berarti bagiku,
dan jangan pernah lupakan awal itu,
karena awal itu lebih indah dari pada perjalanannya,
maka jika masa itu berarti, bahkan sampai sekarang begitu berarti,
kenapa berusaha untuk melerainya jika kita menginginkannya,
namun aku tetap yakin dan tetap percaya,
yakin dan percaya akan janji dan tekad yang kamu sempurnakan saat itu,
janji dan tekadmu yang telah kamu sempurnakan malam itu di lorong mimbar
mesjid tempatmu beri'tiqaf,
kamu niatkan keinginanmu, kamu bulatkan tekadmu dan kamu hujamkan ke
dalam hatimu apa yang menjadi keinginanmu,
aku sangat yakin dan begitu percaya,  
maka apa yang sudah diikrarkan tak akan bisa dipungkiri,
karena sejatinya ia akan kekal dan abadi di dalam hati,
semoga semuanya akan baik-baik saja,
maka yakin dan percayalah

24 April 2013

bissmillah,
mendung dirundung gelisah,dan tidak berada pada posisi seharusnya,
demikian suasana hati saat beberapa waktu yang lalu,
selalu gundah,selalu saja gelisah.
Bahkan rona mentari pagipun tak mampu membuat mendung itu berlalu.
Tidak mampu menyapu rasa gundah dan jga gelisah.
Ketika pagi datang,maka pengharapan akan keceriaan it slalu saja hadir.
Brharap hari yg dilalui seceria pesona mentari dipagi hari.
Tapi tetap saja mendung,
mentari cerah brlalu tnpa arti.
Dan it adlah crita saat bbrapa wktu yg lalu.
Hari ini,
hari kesekian ketika mentari brcahaya cerah ceria penuh pesona.
Namun terasa brbeda dg hari-hari sblmnya.
kali ini chaya mentaripun mampu mmbrikan khangatan.
Hari cerah,pagi ceria.
Memberikan kenyamanan dan ketenangan.
Teduh dan menentramkan hati.
Alhamdulillah,
Bersyukur dg apa yg trjadi,dg apa yg dipilh,dptuskan,dan ditetapkan.
Maka nikmat tuhanmu yg manakah yg kamu dustakan?
Lembaran usang lusuh tanpa arti,
Tanpa makna dan tiada sedikitpun berarti,
Tidak sekarang ataupun nanti,
Karena memang lusuh tak penuh arti.
Lembaran usang lusuh tanpa arti,
Sekarang hanya sebagai bagian cerita masa lalu,
Masa lalu saat beberapa waktu lalu.
Tak ada lagi tempat untuk cerita masa lalu.
Tak ada sedikitpun tempat untuk menyisakan potongannya.
Tak ada lagi tempat direlung hati.
Karena ia sudah binasa,
semuanya habis tanpa sisa.
Maka jangan biarkan ia sedikitpun bersisa,
Jangan biarkan ia menjadi noda.
Karena memang lembaran lusuh tanpa arti.
Lembaran buram dan bersamanya suram.
Kini hanya ada tempat untuk lembaran baru,
Lembaran baru bersama sepotong hati yang baru.
Bongkahan yang menjadi bagian dari separuh hati.
Sepotong hati yang begitu berarti.
Dari malam hingga pagi menjelang, hingga fajar menyinsing dan mentari muncul mencerahkan pagi.
Kegelisahan masih saja merundung, hatipun masih saja mendung.
Akankah mentari pagi ini mampu menghadirkan kembali keceriaan itu?
Harapan kesekian kalinya pada mentari oleh hati yang masih belum mampu kembali pada posisinya.
Masih adakah kehangatan itu?
Masih adakah kebahagiaan itu?
Masih adakah niat itu?
Masih adakah mimpi itu?
Masih adakah harapan itu?
Masih adakah keinginan untuk semua itu terwujud?
Masih adakah?
2 menjelang 100, perjalanan yang tak singkat namun tak bisa pula disebut perjalanan yang tak panjang.
Belum mencapai setahun ataupun setengahnya.
Tiga bulan berlalu atau masuk pertengahan bulan keempat.
Tapi tetap rasanya baru kemarin lusa bahkan rasanya memang baru kemarin.
Waktu berjalan, berlalu dan bergulir begitu cepat.
Tetap rasanya baru kemarin, tapi begitu banyak hal yang sudah dilalui dan dilewati.
Semua penuh warna,
Lembar putih bersama tinta kehidupan dan cerita baru.
Cerita tentang cinta,
Tentang rasa yang bertunas, hidup, tumbuh kuat mengakar,dan begitu kokoh.
Rasa yang tumbuh subur dan merekah, menebarkan keindahan dan aroma kebahagiaan disetiap relung - relung hati,
Cerita tentang aku dan kamu, tentang kita,
Menjadi potongan - potongan puzzle dalam cerita kehidupan.
sangat bermakna, begitu berarti.
maka sudah barang tentu niat dan tekad itu semakin kuat karenanya, harapan itu semakin bertambah, keinginan itu semakin besar,
bahkan mimpi itu semakin terlihat nyata hadir di depan mata.
Namun,masih mungkinkah …?
Seperti analogi titik yang selalu mengandung banyak makna.
Segala sesuatu tidak akan bisa terjadi jika tidak saling.
Ingatlah kembali disaat semua ini bermula
Awal yang indah, awal yang bahagia.
Semoga akan berakhir dengan indah dan bahagia.
Ketika aku yakin, maka aku meyakini bahwa kamupun yakin.
Ketika aku percaya, maka akupun percaya bahwa kamu benar – benar percaya.
Walau semua berawal tanpa adanya pengharapan,
Walau semua hadir tanpa adanya persyaratan.
Namun aku tetap yakin dan aku tetap percaya
Yakin dan percaya akan janji dan tekad yang kau sempurnakan saat itu
Maka apa yang sudah diikrarkan tak akan bisa untuk dipungkiri,
Karena sejatinya ia akan kekal dan abadi di dalam hati.
Bissmillah,
Yakin dan percayalah,
Insya allah semua akan baik-baik saja.
Insya Allah.
Selamat pagi mentari.
Semoga cahaya cerahmu mampu menghadirkan keceriaan bagi hati yg masih mendung,hati yang dirundung kegundahan,hati yang belum mampu kembali kepada posisi sebagaimana mestinya sejak beberapa waktu yang lalu.
Tidak ada saat ini yang mampu menguatkan selain kesabaran dan keteguhan hati.
Tetaplah pada keyakinanmu.
Tetaplah pada pendirianmu.
Tetaplah berpegang teguh pada keyakinan dan pendirianmu seperti saat awal memilih dan memutuskan.
Setidaknya kamu bisa mengingat kembali bgaima yakin,kuat dan beraninya kamu saat itu.
Maka yakin dan percayalah.
Insya allah semua akan baik-baik saja.
Insya allah

05 Juni 2012

10 Golongan Penghuni Neraka

Ibnu Abas r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Ada sepuluh golongan dari umatku yang tidak akan masuk surga, kecuali bagi yang bertobat. Mereka itu adalah al-qalla’, al-jayyuf, al-qattat, ad-daibub, ad-dayyus, shahibul arthabah, shahibul qubah, al-’utul, az-zanim, dan al-’aq li walidaih.
Selanjutnya Rasulullah saw. ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah al-qalla’ itu?” Beliau menjawab, “Orang yang suka mondar-mandir kepada penguasa untuk memberikan laporan batil dan palsu.”
Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah al-jayyuf itu?” Beliau menjawab, “Orang yang suka menggali kuburan untuk mencuri kain kafan dan sebagainya.”
Beliau ditanya lagi, “Siapakah al-qattat itu?” Beliau menjawab, “Orang yang suka mengadu domba.”
Beliau ditanya, “Siapakah ad-daibub itu?” Beliau menjawab, “Germo.”
Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah ad-dayyus itu?” Beliau menjawab, “Dayyus adalah laki-laki yang tidak punya rasa cemburu terhadap istrinya, anak perempuannya, dan saudara perempuannya.”
Rasulullah saw. ditanya lagi, “Siapakah shahibul arthabah itu?” Beliau menjawab, “Penabuh gendang besar.”
Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah shahibul qubah itu?” Beliau menjawab, “Penabuh gendang kecil.”
Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah al-’utul itu?” Beliau menjawab, “Orang yang tidak mau memaafkan kesalahan orang lain yang meminta maaf atas dosa yang dilakukannya, dan tidak mau menerima alasan orang lain.”
Rasulullah saw. ditanya, “Siapakah az-zanim itu?” Beliau menjawab, “Orang yang dilahirkan dari hasil perzinaan yang suka duduk-duduk di tepi jalan guna menggunjing orang lain. Adapun al-’aq, kalian sudah tahu semua maksudnya (yakni orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya).”
Mu’adz bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, bagaimana pandangan engkau tentang ayat ini: yauma yunfakhu fiish-shuuri fata’tuuna afwaajaa, yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala, lalu kalian datang berkelompok-kelompok?” (An-Naba’: 18)
“Wahai Mu’adz, engkau bertanya tentang sesuatu yang besar,” jawab Rasulullah saw. Kedua mata beliau yang mulia pun mencucurkan air mata. Beliau melanjutkan sabdanya.
“Ada sepuluh golongan dari umatku yang akan dikumpulkan pada Hari Kiamat nanti dalam keadaan yang berbeda-beda. Allah memisahkan mereka dari jama’ah kaum muslimin dan akan menampakkan bentuk rupa mereka (sesuai dengan amaliyahnya di dunia). Di antara mereka ada yang berwujud kera; ada yang berwujud babi; ada yang berjalan berjungkir-balik dengan muka terseret-seret; ada yang buta kedua matanya, ada yang tuli, bisu, lagi tidak tahu apa-apa; ada yang memamah lidahnya sendiri yang menjulur sampai ke dada dan mengalir nanah dari mulutnya sehingga jama’ah kaum muslimin merasa amat jijik terhadapnya; ada yang tangan dan kakinya dalam keadaan terpotong; ada yang disalib di atas batangan besi panas; ada yang aroma tubuhnya lebih busuk daripada bangkai; dan ada yang berselimutkan kain yang dicelup aspal mendidih.”
“Mereka yang berwajah kera adalah orang-orang yang ketika di dunia suka mengadu domba di antara manusia. Yang berwujud babi adalah mereka yang ketika di dunia gemar memakan barang haram dan bekerja dengan cara yang haram, seperti cukai dan uang suap.”
“Yang berjalan jungkir-balik adalah mereka yang ketika di dunia gemar memakan riba. Yang buta adalah orang-orang yang ketika di dunia suka berbuat zhalim dalam memutuskan hukum. Yang tuli dan bisu adalah orang-orang yang ketika di dunia suka ujub (menyombongkan diri) dengan amalnya.”
“Yang memamah lidahnya adalah ulama dan pemberi fatwa yang ucapannya bertolak-belakang dengan amal perbuatannya. Yang terpotong tangan dan kakinya adalah orang-orang yang ketika di dunia suka menyakiti tetangganya.”
“Yang disalib di batangan besi panas adalah orang yang suka mengadukan orang lain kepada penguasa dengan pengaduan batil dan palsu. Yang tubuhnya berbau busuk melebihi bangkai adalah orang yang suka bersenang-senang dengan menuruti semua syahwat dan kemauan mereka tanpa mau menunaikan hak Allah yang ada pada harta mereka.”
“Adapun orang yang berselimutkan kain yang dicelup aspal mendidih adalah orang yang suka takabur dan membanggakan diri.” (HR. Qurthubi)
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2007/03/118/10-golongan-yang-tidak-masuk-surga/#ixzz1sp1GMWsU

Copas dari http://ezazx.wordpress.com/2012/04/22/10-golongan-penghuni-neraka/